Pendaftaran

[Pendaftaran][bleft]

IPK VS SKILL

IPK Tiga Koma tetapi Tidak Tahu Apa-apa

Memperoleh gelar sarjana dengan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) diatas tiga tentu prestasi tersendiri. Karena itu bukan perkara mudah. Saya pribadi menyebutnya sebagai suatu yang “luar biasa”. Bagi yang kemampuan otaknya pas-pasan butuh perjuangan berdarah-darah. Jangankan tiga koma, IPK dua koma lima pun sudah sangat disyukuri.

Lulus dengan IPK yang bagus tentu lebih membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Apalagi sekarang, perusahaan-perusahaan yang punya nama mensyaratkan IPK minimal 3,0. Kasihan juga bagi mereka yang IPK-nya minim. Tapi jangan salah ternyata IPK tinggi hanya sebatas nilai yang ada di transkrip nilai saja. Bukan cermin dari kemampuan seseorang. Rasanya banyak perguruan tinggi yang begitu murah hati dalam standar nilai. Belum lama ini saya membantu seorang fresh graduate dalam urusan mencari pekerjaan. Mulai dari membuat surat lamaran yang baik sampai pengiriman baik itu online maupun offline. Sebenarnya agak menarik juga karena awalnya saya tidak berpikir bahwa si A ini anak kuliahan. Karena kesehariannya saya tidak pernah melihat dia pergi kuliah. Tidak tampak aktivitas belajar di rumahnya. Tahu-tahu saja dikasih tahu kalau dia sudah wisuda. Sarjana Akuntansi lho.  Dulu ketika masih kuliah, jurusan ini termasuk favorit dan susah masuknya. Jadi sempat sangsi juga. Baru percaya setelah melihat ijazah dan transkrip nilai. "Ups…IPK-nya tinggi juga” kata saya dalam hati. Sekaligus ngiri. IPK Tiga koma sekian-sekian. Nilainya A-B mulai dari semester satu. Gila juga nih. Makanya jangan lihat orang dari chasing atau keseharian. Bagi yang pernah kuliah di jurusan Akuntansi tentu tahu mata kuliahnya apa saja. Rasanya butuh ketekunan ekstra untuk bisa kuliah di jurusan tersebut. Cuman ketika saya mulai membantu si A ini mulai timbul pertanyaan-pertanyaan.  Bagaimana seorang sarjana Akuntansi dengan IPK tiga koma untuk melamar pekerjaan saja tetapi nihil dalam banyak hal yang cukup mendasar. Maaf, saya tidak bermaksud berbagi kekurangan seseorang. Saya hanya melihat ini sebagai sebuah potret dari sebuah kenyataan pendidikan kita saat ini. Ok lanjut. Pertama, bagaimana seorang sarjana S1 tidak tahu bagaimana membuat sebuah surat lamaran kerja dan CV yang baik dan benar. Ada banyak contoh di internet yang harusnya bisa dimanfaatkan. Seorang sarjana harusnya harus punya inisiatif dan kemampuan berpikir memecahkan masalah. Kedua,bagaimana seorang sarjana S1 yang akan terjun ke dunia kerja tidak tahu apa itu FINANCE. Bahkan pengucapannya saja salah karena dibaca ‘fi-nan-ce” layaknya Bahasa Indonesia. "FINANCE itu apa bang?" Duh, bisa dibayangkan seorang sarjana ekonomi tidak tahu apa itu finance! Ketiga, pengetahuan tentang internet yang buruk. Tidak tahu bagaimana caranya submit attachment. Tidak tahu mana situs lowongan kerja yang benar mana yang abal-abal. Keempat, kemampuan berbahasa Inggris yang juga buruk. Ada yang menarik ketika di sebuah lowongan tertulis “Full Time”. Si A bilang,”wah..gak maulah aku ngelamar di situ. Masak kerja 24 jam Matilah awak!.” Saya cuman tertawa dalam hati.  Sarjana S1 dengan IPK tiga koma ini juga tidak tahu apa itu TOEFL. Saya cek transkrip nilainya. Bahasa Inggrisnya dapat B, harusnya bisa donk bilang FINANCE yang betul. Dosennya sungguh-sungguh murah hati tapi juga sungguh-sungguh keterlaluan. Ada banyak ‘keganjilan’ yang saya temukan. Sebuah kenyataan yang membuat hati miris dan bertanya-tanya. Bagaimana pihak perguruan tinggi dengan jurusan yang statusnya TERAKREDITASI itu menghasilkan sarjana yang ‘kosong’? Mungkin kasus diatas tidak dijumpai di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. Untuk bisa masuk ke jurusan tertentu saja harus melalui seleksi yang begitu ketat. Dosen-dosennya pun tidak sembarangan dalam memberi nilai. Bagaimana dengan perguruan tinggi swasta? Bukan rahasia lagi jika banyak perguruan tinggi swasta yang kualitasnya dipertanyakan. Nilai begitu diobral oleh dosen-dosen yang jarang datang. Mau kasih nilai ketat kasihan juga sama mahasiswa yang sudah membayar mahal. Syukur-syukur masih punya minat untuk kuliah. Mungkin juga mereka tidak perduli para lulusannya mau jadi apa. Apalagi sekarang banyak orang bekerja tidak lagi sesuai dengan latar belakang studynya. Banyak orang mendapat pekerjaan pun bukan dari hasil test tetapi karena unsur orang dalam. Gelar dan IPK lebih penting dari kemampuan yang sesungguhnya. Terpenting punya gelar sarjana karena itu adalah simbol dari status dan kebanggaan. Bukan untuk diri sendiri tetapi menyangkut nama keluarga. Skripsi boleh dari beli pun tidak jadi soal. Kadang timbul pertanyaan dari mana datangnya nilai-nilai yang bagus itu? Apakah standarnya sama dengan standar yang ada di perguruan tinggi negeri misalnya? Jika berbeda, tentu nilai-nilai tinggi hanya akan membuai mahasiswa sejak semester pertama. Sistem pemberian nilai yang murah dan tidak ketatnya absensi boleh dikatakan jamak terjadi di perguruan tinggi swasta. Namun tidak semua, ada banyak juga perguruan tinggi swasta bermutu yang menerapkan syarat kehadiran sekian persen untuk bisa ikut ujian semester. Ya inilah potret pendidikan kita. Dengar-dengar kualitas pendidikan kita berada di peringkat sekian dunia dari bawah. Tidak tertolong dengan banyaknya prestasi anak-anak Indonesia yang sering berjaya di ajang lomba Olimpiade Sains. Mau apa dikata, makanya tidak heran jika PIZZA HUT berubah menjadi FITSA HATS. Eits..jangan ketawain si habib. Ada banyak dari kita pun suka salah-salah eja. KFC dibaca KA-EF-SI. Bahasa Inggris bukan, Bahasa Indonesia juga bukan. Kembali ke IPK yang tinggi, tiga koma atau bahkan empat. Rasanya pihak berwenang, yang mengurusi perguruan tinggi membuat standar yang betul-betul ketat agar output dari perguruan tinggi negeri maupun swasta benar-benar berkualitas. Perguruan tinggi swasta harus membentuk etos belajar yang tinggi sejak semester awal dengan disiplin dalam memberi nilai. Jika perlu harus lebih ketat dibanding perguruan tinggi negeri. Karena ketika lulus dan harus bersaing dalam mencari pekerjaan lulusan perguruan tinggi swasta tidak dipandang sebelah mata. Saya yakin si A tidak sendiri. Ada ribuan sarjana-sarjana dengan IPK tiga koma yang tidak tahu apa-apa. Mungkin terlalu ekstrim mengatakan mereka tidak tahu apa-apa. Tapi ini fakta dan saya beberapa kali menjumpai situasi ini. Beberapa kali membaca di media sosial soal acara wisuda ‘abal-abal’. Dibilang abal-abal karena perguruan tinggi itu kampusnya tidak jelas dimana. Mahasiswa cuma datang pas acara wisuda saja. Ijazah keluar dengan transkrip IPK tiga koma sekian. Ini bukan terjadi untuk sarjana S1 saja, S2 juga banyak yang ijazahnya beli. Ya potret carut-marutnya pendidian nasional. Sekian puluh tahun merdeka, masalah yang sangat mendasar bagi sebuah bangsa ini tidak pernah tuntas terselesaikan. Bagaimana kita mau bersaing di era pasar bebas? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Sumber : kompasiana.com
Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus
  • Blogger Comment using Blogger

Tidak ada komentar :