Pendaftaran

[Pendaftaran][bleft]

"BAHAYANYA" Try Out Online!

Artikel ini tidak ditulis oleh tim Pengen Kuliah. Artikel ini merupakan kiriman dari pihak ketiga. Pengen Kuliah tidak bertanggungjawab dengan isi konten yang ada di dalamnya. Silakan hubungi pihak penulis konten ini apabila diperlukan.
Di luaran sana terutama di grup-grup ke-PTN-an banyak orang yang saling menjelek-jelekkan dan menjatuhkan oranglain terutama dari segi karya.

Jaman sudah semakin canggih memang betul, otomatis arus informasi benar-benar tidak terbendung dan dengan sangat kilat mudah diimani, siapa cepat dia dapat atau penetrasi istilah bisnisnya. Jadi, ketika ada info A pertama kali masuk ke masyarakat apalagi masih bertahan hingga kini faktor utamanya adalah kepercayaan akibat penetrasi tadi atau bahasa sederhananya karena paling awal muncul. Nah, dengan kondisi seperti ini banyak kompetitor yang ingin melawan dengan cara kurang elegan, misalkan merendahkan dan menjelek-jelekkan.

Kami cek di grup-grup sudah banyak diadakan Try Out Online. Ada satu kasus "unik" di mana si pembuat TO Online ini "menjatuhkan" konsep kompetitor yang sudah ada sebelumnya.

"Ujian Tulis PTN sistemnya adalah bla....bla... Jadi kalau kalian ikutan TO yang menggunakan sistem berbeda dengan sistem bla...bla... Maka itu masih abal-abal."

Saya dulu bimbel di dua bimbel, satu di bimbel yang menggunakan sistem Nilai Nasional dan satu lagi yang menggunakan sistem Passing Grade. Banyak asumsi dan paradigma bahwa kedua sistem tadi hanyalah akal-akalan bimbel, ingat, kalau itu akal-akalan gak mungkin hingga kini sistem tersebut masih ada. Kalau itu akal-akalan gak mungkin puluhan ribu siswa lolos PTN dengan dengan kedua sistem tersebut (sekalipun seabreg juga yang gagal).

Kedua sistem di atas murni berdasarkan metode ilmiah dan riset mendalam, di mana hitungan sederhananya adalah mencari rasio (perbandingan) antara Kuota (Daya Tampung) dengan Jumlah Peminat (Saingan) baru kemudian ditambah beberapa racikan formula lain (tentunya hanya pihak bimbel saja yang tahu). Yang jadi tambahan faktor "unik" lain selain saling menjatuhkan di atas, khusus untuk TO Online, ini kasusnya ada pihak yang menjelekkan suatu sistem tapi dia sendiri menggunakan pola dan sistem yang salah juga.

Apa dan dimana salahnya?
Namanya Uji Coba sekalipun bahasanya Uji Coba semuanya harus real seperti asli, bukan sekedar atmosfir. Kesalahan fatalnya dalam kebanyakan TO Online adalah pola/sistem waktu pengerjaan yang digunakan untuk proses deadline pengumpulan data hasil ujian peserta bisa hingga 12 jam malah satu hati satu malam. Wow! Kalau Ujian Tulis PTN Asli misal SBMPTN emang seharian dan bahkan bisa sehari semalam ya? Enak banget kalau gitu mah bisa koreksi jawaban dengan batas waktu yang bebas banget.

Ujian kok bebas, kayaknya ujiannya milik nenek sendiri deh :) Jangan-jangan nanti pas malaikat mau datang juga bisa protes dulu ya? :)

Sebetulnya banyak peserta yang "goyah iman" sehingga meraka berbetah diri mengoreksi sana-sini karena deadline pengumpulan jawaban dan data lainnya adalah karena oleh panitia TO Onlinenya sendiri yang memberlakukan sistem seperti itu. Namanya juga peserta apalagi kalau pesertanya remaja, mayoritas diapain pun sama panitia, pasti ngikut. Ketika di awal-awal, banyak kok siswa yang "mengokohkan iman" mereka untuk mengerjakan soal-soal TO Online dengan sistem Ujian Tulis real bukan seenak udel waktunya yang bebas hingga bisa bermalam dan bisa ngeronda siang malam, tapi seperti di atas dijelaskan mereka akan tergiur oleh kalimat,

"Batas pengumpulan jawaban dan data lain-lain selama 24 jam."

Kan ini gendeng banget, siapa coba yang gak bakal goyah dengan rayuan gombal seperti ini. Ketika peserta mengerjakan soal-soal dan jawabannya dirasa ada yang kurang yakin, maka dengan terus menerus dia akan mencari cara agar jawabannya betul. Banyak cara lho, bisa nanya ke guru di sekolah, tentor di tempat bimbel dan tentor privat, atau ngerjainnya secara kelompok, otomatis kan ini terlalu surgawi.

Kesalahan selanjutnya adalah, ketika saya lihat hasil TO peserta banyak banget yang nilai akhirnya bengkak-bengkak atau sangat tinggi, eh tahu-tahunya pas ikutan Try Out Akbar yang live dan pelaksanaan ujian real dalam pengumuman akhirnya gagal. Lha, kok bisa? Katanya nilai TO Online-nya bengkak-bengkak, kok sekarang gak lulus? Kenapa kesalahan itu bisa terjadi? Ternyata oh ternyata komposisi soal-soal dalam TO Online mayoritas adalah soal-soal yang dicomot dari sumber-sumber yang sudah umum melata, baik dari buku-buku di pasaran maupun di internet yang pola pembahasannya juga melata. Kualitas, konten, dan komposisi soal-soalnya seolah akan berulang dan benar-benar mirip seperti itu.

Lha, emang soal Ujian Tulis PTN bisa diprediksi? Emang soal-soal Ujian Tulis PTN sama dengan soal-soal ulangan di sekolah yang dikasih tahu sebelumnya, kisi-kisi hingga soal-soalnya pula kemudian jawabannya dibahas bareng-bareng dan muncul dalam ulangan? Jangankan panitia TO Online yang baru mahasiswa semester 1, 2, 3, dan 4, para tentor bimbel pun yang menulis buku drilling soal-pembahasan dan buku tersebut dijual di pasaran dengan 2-3 paket prediksi di dalamnya, ujung-ujungnya tetap banyak bahkan selalu meleset tuh prediksinya, alhasil sekalipun judul bukunya 99,99% dijamin lulus lah, 100% lah, ini lah itu lah tetep aja bikin pembelinya keloyongan bahkan modar, seabreg lho fakta beginian. Itu mah hanya bahasa marketing atau copy writing kalau dalam bahasa jualan produknya.

Apalagi soal-soal Ujian Tulis PTN, gak ada kisi-kisi, gak bisa diprediksi, sekalipun ada data risetnya untuk membuat prediksi tetap saja banyak yang salah dan meleset, lagian masa sih tim pembuat soal ujian tulis PTN bisa dibodohin oleh tentor bimbel agar kualitas soalnya sama persis? Makanya, soal-soal SBMPTN bisa dibilang masih skala standar - medium lah, coba telen tuh soal-soal SIMAK-UI, dijamin sedap nian deh pedesnya! JOZZZ banget deh gendengnya, bener-bener bikin otak panas bergejolak, haha.

Nah, dengan kondisi dan fakta-fakta real seperti di atas, otomatis siswa merasa berleha-leha dalam mengerjakannya, toh bisa dengan gampang dikoreksi. Dia lupa bahwa dalam ujian real gak bisa sampai ngeronda siang malem, dia lupa bahwa dalam ujian real manajemen waktu penting sekali semisal untuk membulatkan LJK saja sangat krusial, dalam online kan gak ada kondisi LJK real, dan seabreg kesalahan fatal lainnya.

Semoga tercerahkan.

Salam,


Coach @Altar_King
CEO & Founder


Quadrant International

Pengen Kuliah ~ Follow us @ Line Official @ bit.ly/infokuliah

Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus
  • Blogger Comment using Blogger

Tidak ada komentar :